Sejarah Wayang Wahyu Bhuana Alit

SEJARAH SANGGAR SENI BUDAYA BHUANA ALIT

Paguyuban Wayang Wahyu Bhuana Alit berawal dari sebuah semangat untuk membangkitkan kembali salah satu jenis wayang kulit menceritakan isi Al-Kitab yang keberadaannya tidak banyak diketahui masyarakat luas. Di mulai pada tahun 2013 ketika menjadi pemandu wisata di sebuah museum di Yogyakarta. Saya merasa kagum sekali melihat beberapa contoh wayang kulit Yesus di ruang pamer wayang. Banyak wisatawan domestik bahkan wisatawan asing yang sangat tertarik dengan wayang Kristiani tersebut. Bermodal semangat dan tekad mulai mewujudkan dengan dibantu oleh beberapa pengrajin wayang kulit, kami mulai membuat contoh karakter wayang kulit Yesus Kristus. Seiring berjalannya waktu, mulai di kenal masyarakat luas.

Dirasa belum cukup dalam hal wayang kulit wahyu. Kami berinisiatif untuk memulai dibentuk suatu kelompok yaitu terwujudnya pagelaran wayang wahyu. Dengan melibatkan generasi muda di dalam pagelaran tersebut, diharapkan akan berdampak positif bagi Dusun Kanutan secara khusus dan masyarakat luas secara umum. Gagasan dibentuknya Paguyuban Wayang Wahyu Bhuana Alit pada dasarnya yaitu untuk mengembangkan kebudayaan, agar semua pihak tergugah bahwa budaya adalah akar kekuatan dan pondasi untuk menyongsong masa depan yang berjati diri. Juga berkreasi sambil mendidik generasi muda dan menyebarkan toleransi dalam bermasyarakat, membuka jalan ke arah hidup beriman kepada Tuhan.

Kegiatan di sanggar Bhuana Alit yang telah menjadi rutinitas kami adalah belajar bagaimana memainkan pagelaran wayang kulit, untuk memberi warna lain kami juga memberi fasilitas topeng kertas untuk latihan reog, juga ada kegiatan gejog lesung. Semua team pemain Paguyuban Bhuana Alit adalah anak anak Sekolah Dasar. Kami tidak hanya melibatkan anak anak Kristiani saja melainkan lintas agama. Puji Tuhan nama gang menuju Sanggar kami sudah kami namai Gang Pancasila.

Wayang Wahyu

Wayang kulit merupakan salah satu maha karya seni yang menjadi kebanggaan bangsa Indonesia, bahkan diakui oleh UNESCO. Dengan menghadirkan seni tatah sungging yang sangat istimewa. Wayang kulit selalu mempesona dari masa ke masa. Salah satu jenis wayang kulit di nusantara adalah Wayang Wahyu.

 

Sejarah pertama wayang wahyu di prakarsai oleh Pastur D. Adisoedjono MSF pada tahun 1957. Saat itu pementasan masih mempergunakan tokoh-tokoh wayang purwa. Seiring berjalannya waktu, demi baiknya dan tidak menyalahi peraturan seni pewayangan diadakan diskusi antara Bruder Thimotheus, pastur, pakar wayang dari ASTI (Akademi Seni Tari Indonesia) yang sekarang menjadi ISI (Institut Seni Indonesia), dan KONRI (Konservatori Tari Indonesia) yang sekarang menjadi SMKI (Sekolah Menengah Kesenian Indonesia). Dalam diskusi tersebut disepakati untuk dibuat wayang wahyu yang mempunyai ciri khas tersendiri. Bentuk manusia digambar mirip dengan wajah serta watak orang yang menjadi perannya. Pada tanggal 2 Februari 1960 kemudian ditetapkan sebagai hari jadi wayang wahyu.

Wayang Wahyu pada awalnya diciptakan dalam rangka untuk penyebaran agama Katolik. Kisah cerita yang diambil berdasarkan atas Kitab Perjanjian Lama yang menceriterakan kisah-kisah zaman para Nabi yang berkaitan dengan Kitab Injil, dan dilanjutkan dengan cerita-cerita dalam Perjanjian Baru yang mempunyai fungsi untuk pendidikan umat Katolik pada khususnya dan masyarakat pada umumnya.

Wayang yang pagelarannya disajikan dalam waktu berdurasi sekitar tiga sampai dengan empat jam ini tidak dirancang untuk melahirkan paradigma baru sebagai bentuk akulturasi budaya, melainkan usaha untuk membumikan keimanan Katolik. Bukan fenomena Jawanisasi ajaran Kristus ke dalam kosmologi masyarakat Jawa, melainkan media alternatif untuk membaca ajaran Kristus dengan bahasa ibu manusia Jawa. Wayang Wahyu bukan konsepsi komunal masyarakat Jawa, melainkan fenomena konseptual yang mengkonotasikan bentuk-bentuk komunal masyarakat Jawa. Paradigma Wayang Wahyu adalah realitas panggung sebagai pembabaran ajaran kebenaran universal untuk memberi nilai tuntunan pada realitas zaman.

Sumber cerita yang dilakonkan dalam pagelaran Wayang Wahyu mengangkat kisah yang terdapat di dalam Alkitab. Tokoh-tokoh dalam Wayang Wahyu dibuat secara realistik dengan ornamen dan ricikan yang distilir mirip dengan sunggingan (tatahan) wayang kulit Purwa. Selayaknya pertunjukan wayang kulit pada umumnya, pagelaran Wayang Wahyu juga diringi dengan gamelan dengan mengambil nyanyian atau gendhing Gerejani dengan garapan (tata penyajian) yang kreatif. Namun dalam suluknya (semacam nyanyian yang dikidungkan oleh dalang dalam pertunjukan wayang), masih tetap menampilkan gaya dan irama tradisional seperti pada wayang kulit Purwa dengan kreasi lirik yang baru. Alur cerita yang dipakaipun masih mengikuti pakem (aturan atau pedoman baku) dari pertunjukan wayang kulit Purwa pada umumnya.
Bahan dasar pembuat Wayang Wahyu tetap menggunakan belulang atau kulit binatang yang dipahat dan diwarnai seperti layaknya menciptakan Wayang kulit Purwa. Perupaannya cukup dilematis, antara setengah bentuk wayang yang mempunyai pola garap mendekati Wayang Purwa dan setengah gambar manusia realistis terutama untuk tokoh-tokoh yang karakternya sudah dikenal masyarakat. Wayang Wahyu bukan mewayangkan tokoh-tokoh dalam alam pikiran Barat, melainkan mencitrakan karakteristik tokoh-tokoh dalam Alkitab menurut alam pikiran Jawa.
Eksistensi Wayang Wahyu juga persoalan dilematis. Wayang Wahyu bermuara antara estetika Barat dan Timur, antara kesenian tradisional dengan lingkungan Gereja dan antara kreativitas seniman dengan ketaatan pada ajaran Gereja. Sebagaimana fenomena lambang meskipun dikontrol keberadaannya oleh Gereja, tetapi perupaan wayang yang lahir dari tangan seniman Jawa tetap berkait dengan fenomena lambang. Beberapa unsur pakeliran Wayang Wahyu memuat nilai-nilai filosofis Kristiani yang sebagian besar muncul dalam cara ungkap Jawaisme. Nilai filosofisnya adalah nilai-nilai Kristiani dan bukan filsafat pewayangan, meskipun beberapa unsurnya memuat nilai-nilai universal dan Jawa (Kejawen), tetapi tidak berseberang jalan dengan paradigma Kristiani. Nilai-nilai tersebut terformulasi dari dua kutub besar, yaitu nilai-nilai Kejawen (wayang kulit Purwa) yang menjadi kekuatan obyektifnya dan kutub dogmatis Kristiani yang menjadi kekuatan subyektifnya. Keduanya adalah energi kehidupan Wayang Wahyu itu sendiri.
Pergelaran Wayang Wahyu adalah proses transformasi nilai yang menitik-beratkan pada substansi dogmatis lewat media adaptif sebagai strategi bahasa panggung lewat konflik kontemplatif religius, di mana para penghayat berkesempatan melakukan koreksi ulang, pengkayaan dan pendalaman nilai-nilai Alkitabiah. Bahkan dapat menemukan fenomena lain dalam wilayah religiusnya sebagai bagian dari perjalanan spiritualnya.